About Macabre (part 1)
Happy Sunday! Seperti yang dijanjikan kemarin, gw nulis tentang Rumah Dara. Post kali ini agak panjang. But.. enjoy folks!
Dengan keadaan sendirian di rumah, sebenarnya agak nggak afdol nulis post ini. Tapi lanjut aja deh ya.
Ok, jadi kemarin gw nonton Rumah Dara menggunakan Windows Media Player, sendirian, menjelang sore. Gw perhatiin, film ini ada subtitle English-nya.
Dan untungnya gw yang memang pintar, gw buka Winamp, lalu men-set playlist berisikan lagu2 yang cukup nge-beat dari Adhitia Sofyan. Setelah itu, gw mute suara dari film itu sendiri. Intinya, gw nonton film dengan musik lain. Gw cukup pintar untuk mengikis rasa takut.
Baru nonton sampai adegan Alam disabet oleh Maya, gw udah mual. Mungkin ini efek karena gw nonton tanpa teriak. Trik dari teman-teman gw, kalo nonton sesuatu yang seram, atau naik wahana di Dufan, itu harus teriak. Karna kalo nggak, kita bakal mual. Sampai sini, gw bisa mengerti kenapa ada film yang berjudul Scream.
Untungnya, gw yang memang pintar mendekap mulut gw sendiri dan berteriak.
Gw sedih, suara gw mirip burung gagak keselek kodok.
Ok, sekarang, gw bakal membahas apa saja yang gw suka dan gw tidak suka dari film Rumah Dara.
Kesan Pertama yang gw dapet dari awal nonton Rumah Dara .. ketauan banget kalo film ini terlalu men-centralkan ke peran Ladya(Julie Estelle), dan benar aja, Ladya satu-satunya victims yang keluar secara selamat.
Daanish mainin peran secara bagus, tapi yang gw benci, suara Dara terlalu diberat-beratin. Terkesan aneh..
Seriusan, gw nonton ini karena penasaran sama peran Dara, Adam, dan Jimmy. Yaitu Shareefa Daanish yang sehari-harinya gokil, harus menjadi peran misterius nan anggun. Arifin Putra(Adam), yang sehari-harinya ramah, kalem dan cool, harus ngeliat orang dengan tatapan seram, harus matahin tulang orang. Juga Daniel Mananta(Jimmy), yang sehari-harinya terlalu gokil, harus lebih kalem.
Dari mereka bertiga, yang menurut gw totally berhasil cuma Daniel Mananta.
Actingnya bagus, dan keliatan natural cool.
Kesan Kedua, yakni latar waktu dan tempat. Jadi, tujuan keluarga Dara membunuh dan memakan manusia agar bisa hidup abadi. Sebenarnya keluarga Dara udah tua banget. Nah, karena itu menurut gw cukup masuk akal apabila rumahnya berada di dataran tinggi, diatas hutan, juga jauh dari peradaban manusia.
Juga ada scene dimana Eko, Jimmy dan Ladya kabur ke hutan namun dikejar oleh Adam. Pendapat gw... bunuh-bunuhan di hutan tengah malam keren juga.
Kemudian, ada 6 polisi dan 2 tawanan(Eko dan Macia - diperankan Aming) yang datang ke rumah Dara dan mengantar Eko(yang hilang di hutan dan ditemukan polisi). Dara mengisyaratkan Adam buat matiin lampu, and guess what... setelah lampu nyala, 4 polisi udah mati dibunuh keluarga Dara, beberapa dengan kepala copot.
Lanjut ke latar waktu. Oh ya, gw belum ceritakan, Jadi sebenarnya saat malam hari, mereka mau balik ke Jakarta. Ditengah jalan, Jimmy yang mengendarai mobil hampir menabrak Maya. Maya mengaku bahwa ia kerampokan. Jadi, para victims memutuskan nganterin Maya pulang ke rumahnya karena rumahnya searah Jakarta.
After the previous night's bloody "game", Ladya yang selamat keluar rumah dan set waktu-nya udah pagi hari. The Mo Brothers merhatiin sampe detail-nya abis.
Lanjut ke part 2
Comments
Post a Comment